Sabtu, 10 Oktober 2009

Rangkuman B. Indonesia

IV. TUBUH SEBAGAI TUBUHKU

Marcel mengaitkan masalah “mempunyai”, dan “ADA” dengan tubuhku. Saya mempunyai tubuhku, atau saya adalah tubuhku ? Tubuhku bukan obyek. Tubuhku selaku melibatkan pengalaman saya sendiri tentang organisme ini.

Tubuhku sulit dipandang sebagai alat. Memang antara tubuh dan alat-alat terdapat hubungan erat, malah terdapat “a deep community of nature”. Yang memakai sebuah alat harus mempunyai HAKEKAT yang SAMA seperti alat yang dipakainya. Tetapi seandainya tubuh sendiri merupakan alat bagi jiwa maka harus ada “persekutuan hakekat” antara jiwa dan tubuh sebagai alat. Dengan kata lain, jiwa harus bersifat fisis atau tubuh harus bersifat psikis. Mustahil.

Marcel meningkatkan tubuh pada “merasakan” berarti menerima dalam wilayah yang merupakan wilayah SAYA. “Merasakan” hanya bisa berlangsung melalui tubuh yang dialami sebagai tubuhku. Dari analisa mengenai “merasakan” ini dapat disimpulkan juga apa yang dimaksudkan Marcel dengan “INKARNASI” manusia.

V. KEHADIRAN

Tema yang sangat penting bagi Marcel ialah HUBUNGAN MANUSIA dengan SESAMANYA. Untuk melakukan hubungan manusia dengan sesamanya Marcel menggunakan kata “KEHADIRAN” (PRESENCE). “Hadir” disini tidak berada ditempat yang sama. Malahan bisa terjadi komunikasi antara dua orang tanpa mencapai taraf kehadiran mereka mencapai taraf kehadiran mereka, kata Marcel, bagaikan dua pesawat radio, yang satu memancarkan yang satu menerima.

Antara mereka ada komunikasi tetapi tidak ada kontrak sungguh-sungguh (=Comminication sans Communion). “Kehadiran” hanya dapat berwujudkan jika “AKU” berjumpa dengan “KAU”.

Dalam kontrak ini “perjumpaan” (=RECONTRE) mempunyai arti khusus. Marcel membedakan relasi “AKU” --- “ENGKAU” dari relasi “AKU” ---- “DIA”. Dalam relasi “AKU – DIA” orang nampak bagi saya dalam aspek-aspek fungsionalnya. Tetapi dalam relasi “Aku – Engkau” sesama manusia tampak bagi saya justru sebagai sesama.

Di dalam cinta “kehadiran” ini diwujudkan secara istimewa. Di dalam cinta itu relasi “Aku-Engkau” mencapai taraf “KITA”. Melalui “KITA” dicapai kesatuan ontologism yang melebihi dua orang yang dijumlahkan satu sama lain. “Aku” dan “Engkau” bukan merupakan bahagian masing-masing yang disambung menjadi “KITA”. Pada taraf “KITA”,”AKU” dan “ENGKAU” diangkat menjadi suatu kesatuan baru yang tidak mungkin dipisahkan kedalam dua bagian. Jadi kebersamaan dalam cinta tidak terbatas pada satu saat saja, melainkan menurut kodratnya harus berlangsung terus.

Dalam rangka tema “KEHADIRAN” ini Marcel berbicara juga tentang masalah KEMATIAN dan KEBAKAAN. Hal ini ditempatkannya di dalam konteks “Kematian ORANG-ORANG yang SAYA CINTA”. Sebenarnya saya tidak KEHILANGAN orang yang saya cintai. Saya hanya kehilangan sesuatu yang saya punyai. Kata “kehilangan” hanya berlaku untuk obyek-obyek yang sah miliki. Sedangkan kehadiran berlangsung terus, bersifat langgeng, tidak terbatas pada waktu tertentu.

VI. ENGKAU ABSOLUT

Refleksi filosofi tentang kehadiran orang lain, bagi Marcel menghantar kita kepada kehadiran dari “Yang Lain” secara istimewa itu Tuhan.

Adanya Tuhan atau lebih baik kehadiran Tuhan termasuk suasana Misteri. Jika saya setia kepada hakekat saya sebagai manusia, maka haruslah saya akui bahwa saya diliputi oleh misteri yang saya ciptakan sendiri, oleh suatu KEHADIRAN yang melampaui jangkauan saya. Maka disini Marcel menggunakan kata-kata “KEPERCAYAAN” dan “HARAPAN” dalam dari fisiologi.

Saya “percaya” pada “Engkau Absolut” yang merupakan dasar bagi setiap perjumpaan dengan “Engkau” yang lain. Bukan pembuktian yang jadi dasar untuk menerima Tuhan, tetapi himbauan (=invocation) dari “Engkau Absolut” (=Toi Absolut) yang dijawab dengan kepercayaan. Harapan adalah kesaksian kreatif tentang “Engkau Absolut” yang memegang saya dan melingkupi (=Umreifend: Jaspers) saya kendatipun segala penderitaan dan kejahatan yang saya hadapi.

7. EMMANUEL LEVINAS

1. Riwayat Hidup Dan Karya-Karyanya

Emmanuel Levinas dilahirkan di Kaunas Lithuania pada tanggal 30 Desember 1905. Ia keturunan Yahudi. Mengikuti pendidikan menengah di Chaykow (Rusia) dan Kaunas. Sekitar tahun 1916 ia mengungsi ke Prancis di kota Strasbourg, dimana ia menempuh pendidikan Universitasnya antara 1932 dan 1930. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut dengan disertai berjudul : La theorie de l’intuition dans la phenomenology de Husserl. Di Freiburg ia bertemu dan bergaul dengan filsuf-filsuf kenamaan seperti Edmund Husserl dan Martin Heideggen.

Pada tahun 1931 ia menjadi warganegara Prancis. Dan pada permulaan perang Dunia II (1939) ia dipanggil membela tanah airnya yang kedua, kemudian ditanah di Kamp Jerman sejak Juni 1940 hingga perang “College philosophique” dan Ecole des Science politiques. Sejak 1967 menjadi mahaguru di Prancis-nanterre, pernah menjadi Direktur “Ecole normale Israelite Orientale”.

2. Karya-Karyanya

Seluruh karya Levinas berjumlah 164 buah. Disini disebut beberapa karya penting. La theorie de l’intuition dans la phenomenology de Husserl. De L’existence a L’existant (= dari eksistensi ke eksisten). Le Temps et l’autre (=waktu dan yang lain). Le choix, le monde, l’existence (=pilihan, dunia ,eksistensi) TOTALITE ET INLESSEISUR l’exteriorite (=Totalitas dan takterhingga, essei mengenal yang terluar/lain). Diffcile liberte.

3. Hubungan Antar Pribadi

3.1. Titik tolak (=terminus a quo) dan Titik Tujuan (=terminus ad quem).

Yang merupakan titik tolak oleh Levinas disebut “le Moi”. Bagaimana “le moi” terjadi? Hal ini biasa terjadi oleh karena terjadi sesuatu prinsip batin atau prinsip rohani. Prinsip batin ini disebut satu dimensi psikisme. Karena prinsip batin ini, maka munculah yang disebut Si Aku. Si Aku berhubungan dengan “yang lain”. Yang dimaksudkan disini ialah suatu pribadi yang benar-benar BERDIRI SENDIRI dan BEBAS. Pribadi ini juga menyatakan bahwa ia selalu sama dengan dirinya sendiri. Artinya meskipun ia berhadapan dengan “yang lain” ia TETAP SAMA dengan DIRINYA SENDIRI.

apa artinya “le meme:? Kata ini mempunyai dua arti. Bisa berarti “Si Aku” yang menguasai segala sesuatu. Ia bisa menguasai segala sesuatu dengan memiliki, mengerti serta mengerjakannya. Segala sesuatu berada melulu karena dan demi Si Aku saja. Selanjutnya kata tersebut sebagai titik tolak suatu hubungan yang dimaksud oleh Levinas.

apakah titik tujuannya? Untuk menunjukan titik tujuan kadang-kadang Levinas menggunakan kata-kata “l’Autre”, “alterite” (=ke-laian-an) exteriote (=ke-luar-ran) atau etranger (=orang asing). Dengan ungkapan-ungkapan itu Levinas mau menunjukan bahwa titik tujuan hubungan itu haruslah sesuatu yang sama sekali diluar dari dan tak pernah boleh menjadi bahagia dari Si Aku. Jadi, baik kata ‘l’Autrui” maupun “l’Autre” membawa kita kepada kesimpulan ini, yakni: bahwa orang lainlah titik tujuan orang tersebut. Jadi hubungan adalah hubungan yang terjadi antara “Si Aku” dan “orang lain”.

3.2. Hubungan Yang Sejati

Hubungan itu seperti apa menurut Levinas ? Dengan singkat Lenivas menjawab : HUBUNGAN DIMANA PENOPANG-PENOPANGNYA TETAP MUTLAK DALAM HUBUNGAN TERSEBUT.(......= Un rapport de telle sorte que les termes ne sont pas limitrophes dans ce rapport, que I’Autre, malgre le rapport avec le meme demeure transcendant au meme = suatu hubungan yang sedemikian rupa sehingga para penopannya tidak membatasi atau tidak merupakan pembatas dalam hubungan ini, sehingga ’yang lain’ itu, meskipun ada hubungan dengan ’si Aku’ tetap melampaui atau mengatasi ’si Aku’. Meskipun berada dalam hubungan tetapi penopang-penopang hubungan tersebut tidak tenggelam didalamnya. Mereka tetap berpisah secara mutlak. Dalam kediri-sendirian-nya serta keberlainannya yang mutlak.

Perumusan formal diatas harus dikongritkan yakni ’si Aku’ dikongkritkan menjadi Aku yaitu diriku yang kongkrit ini, sedangkan ’orang yang lain’ menjadi orang tertentu Kesimpulan yang bisa ditarik dari uraian diatas ialah : satu-satunya hubungan yang benar dan sejati ialah hubungan antara Aku dan orang lain. Kesejatiannya terletak didalam kenyataan bahwa aku MENGAKUI, MENERIMA serta MENGHARGAINYA dalam seluruh kediri sendirian dan keberlainannya.

3.3. Penampilan Wajah

Menurut Levinas mengetahui sesuatu atau menindasnya juga berarti apa yang disebut ’DEVOILER’ (=membuka tutup, atau menelanjangi). ’Devoiler’ berarti mendekati realitas dari sudut pandang dan yang konteks tertentu. Dalam pengetahuan demikian ’yang lain’ itu hanya tergantung pada kegiatan dari subjek yang mengetahuinya. Ada yang diluar dari subjek yang mengetahuinya hanyalah sesuatu yang bersifat relative belaka dan sama sekali tidak mutlak.

Ada suatu macam pengetahuan lain lagi tentang ’yang lain’ itu. Pengetahuan ini hendaknya dipahami dalam arti lain dari pada yang disinggung diatas. Karena inisiatif untuk ’pengetahuan’ itu tidak datang dari dalam melainkan dari luar subjek yang mengetahuinya. Pengetahuan demikian oleh Levinas disebut ’PENGETAHUAN yang MUTLAK’, atau pengalaman fundamental. Dalam pengetahuan atau pengalaman fundamental ini orang lain benar-benar deketahui atau dialami dalam seluruh kediri-sendirian dan keberlainannya.

3.4. Orang Lain Itu Tuan

Orang lain tidak saja sama sekali lain dari padaku, tidak saja asing bagiku dan terlepas dari lingkunganku. Ini hanya sudut negatif dari hubunganku dengan orang lain. Ada sudut positifnya. Dan sudut positifnya ialah bahwa dalam dan melaui penampilan wajah, orang lain itu menyatakan perlawanan etis, yang terjadi tanpa kekerasan sedikitpun.. Lebih dari itu: perlawanan atau pernyataan sebagai wajah ini juga menggangu serta menggocangkan ketentramanku. Mengapa? Orang lain mempersoalkan diriku, kebebasanku serta pelaksanaan kebebasan itu.. Maka aku mulai meragukan diriku sendiri serta keterbatasan kebebasanku sebagi seorang lawanku. Sebaliknya ia memberikan makna dan arah kepadanya. Ini semua mustahil terjadi, kalu orang lain itu tidak lebih besar dari padaku dan tidak lebih tinggi saja melulu lain daripaku, melainkan juga dan terutama ia adalah ATASANKU dan TUANKU. Orang lain terutama ia adalah Tuanku”yang datang dari tempat yang lebih tinggi”.

3.5. Hubungan Etis yang Asimetris

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan dengan orang lain itu merupakan hubungan etis, meskipun kata “etis” tidak digunakan oleh Levinas sendiri. Hubunganku dengan orang lain harus selalu ditempatkan dalam terang “etis” ini. Hubungan ini, menurut Levinas, bukanlah suatu hubungan yang timbal balik atau yang dapat di bolak –balikan. Hubungan ini disebutnya hubungan ASIMETRIS (=tidak simetris). Dan hubungan asimetris adalah suatu gerakan tanpa balik atau suatu orientasi yang tidak dapat tidak mulai dari diri sendiri menuju kepada orang lan. Ini berarti “melepaskan diri dari gaya bobot dirinya sendiri, lalu menaruh pusat gaya bobot tersebut di luar dirinya sendiri”.

3.6. Dia juga orang asing, janda dan yatim piatu

Orang lain itu menyatakan dirinya kepadaku dalam keagungan, keluhuran dan kekuasaannya. Karena itu pantaslah ia disapa dengan “Yang Mulia”. Ia adalah besar dan hebat (=grandeur). Tetapi dia juga mewahyukan diri sebagai wajah yang telanjang. Dan mewahyukan diri sebagai wajah yang telanjang, samalah dengan “MENYATAKAN DIRI TANPA BENTUK”. Hal ini menadakan bahwa dia juga menatakan dirinya kepadaku benar-benar kongkrit, berbadan. Dia ini sungguh-sungguh telanjang, lapar, melarat (=Misere). Dalam keadaan demikian dia benar-benar tidak berdaya sedikitpun. Sebagai yang sama sekali tidak berdaya dia disebut “orang asing”, janda dan yatim piatu.

3.7. Mengakuinya secara material

Orang lain yang melarat dan telanjang itu mewahyukan dirinya kepadaku yang memiliki materi. Dengan mewahyukan diri ini dia sebenarnya mau menyatakan diri sebagai suatu “permohonan”. Dia membebankan dirinya kepadaku. Terhadap permohonan dan beban ini aku tidak bisa bersikap tuli. Tak ada pilihan lain bagiku daripada”mendengarkan ratap tangis kemelaratan”.

Dengan mengakui disini mendekati dan menerimanya dengan MEMBERIKAN kepadanya materialku. Dan pemberian haruslah terjadi dengan penuh kerahiman

3.8. Inti ajaran Levinas

Apa yang diajarkan Levinas? Di ajarkanya ketidaktergantungan setiap individu. Hubungan dengan orang lain harus diakui dan dihargai secara kongkrit. Gaya bobot hubungan dengan orang lain harus nampak dalam keterarahan terhadap orang lain. Maka, filsafat Levinas disebut filsafat tentang orang lain.

Tidak ada komentar: